Ticker

6/recent/ticker-posts
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.

Aku Sadar Siapa Booster Ramadhanku Selama Ini



“Barangsiapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, maka Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka. (Nash riwayat ini disebutkan di kitab Durrat An-Nasihin).

“Ketika masuk bulan Ramadlan maka syaitan-syaitan dibelenggu, pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup,” (HR Bukhari dan Muslim).

Allah juga berfirman :

ﻗُﻞْ ﺑِﻔَﻀْﻞِ ﺍﻟﻠّﻪِ ﻭَﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻪِ ﻓَﺒِﺬَﻟِﻚَ ﻓَﻠْﻴَﻔْﺮَﺣُﻮﺍْ ﻫُﻮَ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِّﻤَّﺎ ﻳَﺠْﻤَﻌُﻮﻥَ

“Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (QS. Yunus [10]: 58).

Dari dalil - dalil tersebut sangat jelas bahwa orang mukmin sudah selayaknya bergembira atas datangnya Bulan Suci Ramadhan. Dikarenakan pada bulan Suci Ramadhan itu, semua pahala akan dilipatgandakan, banyaknya Rahmat-Nya yang diturunkan di bumi-Nya. Setan-setan dikunci rapat dan tidak diperbolehkan untuk keluar. Pintu-pintu syurga dibuka Allah SWT selebar-lebarnya. Menjadi bulan dimana Al-Qur’an diturunkan ke bumi. Bahkan di bulan Ramadhan ini terdapat satu malam yang apabila kita beribadah di dalamnya, pahalanya itu sebanding dengan 1000 bulan waktu kita di dunia. Malam tersebut adalah Malam Lailatul Qadr. Malam yang selalu dicari-cari oleh yang giat mencarinya. Bukankah itu adalah berita yang sangat bagus untuk kaum mukminin?

Tapi pertanyaannya adalah apakah kita masuk ke dalam kategori mukminin? Ataukah kita masih menetap statusnya di kaum muslimin?

Dengan adanya wabah virus korona ini, kita bisa introspeksi diri. Apakah kita bergembira datangnya bulan Ramadhan memang karena kita menginginkan pahala dan mendapatkan maghfirah-Nya? Ataukah kita menjadi kaum yang mengikuti suasana Ramadhan saja?

Pada bulan Ramadhan sebelum-sebelumnya, Masjid dibuka untuk sholat tarawih, sering terdengar suara-suara ngaji dari masjid, banyaknya agenda buka bersama di masjid ataupun di lingkungan tempat kita berada, sekolah yang pada libur, jam kantor yang lebih singkat dari hari hari biasanya, dan masih banyak lagi yang kita dapatkan pada bulan suci Ramadhan. Tetapi semua hal itu tidak kita jumpai pada bulan Ramadhan ini dikarenakan virus korona yang semakin merajalela.

Menjadi lesu ibadah karena virus korona? Merasa seperti bukan bulan Ramadhan? Atau Menilai bahwa bulan Ramadhan kali ini tidak ada bedanya dengan bulan lainnya?


Jika kamu mengalami hal tersebut, kamu harus perhatikan lagi Booster Ramadhan kamu. Artinya kamu tidak benar-benar mengerti apa artinya Allah membukakan pintu syurga selebar-lebarnya pada bulan Ramadhan. Atau kamu mengira bahwa virus korona ini juga berdampak pada tertutupnya pintu pintu syurga?

Sekali lagi virus korona hanya berdampak di bumi, tidak ada hubungannya dengan akhirat. Ada atau tidaknya virus korona, pintu-pintu syurga tetap terbuka selebar lebarnya. Sudah saatnya kita kenali Booster kita selama ini. Apakah muncul dari dalam diri ini? Ataukah booster itu muncul dari luar diri?



Jika suasanya Ramadhan kali ini tidak seperti suasana Ramadhan sebelumnya, kamu tinggal membuatnya sendiri sama seperti bulan Ramadhan sebelumnya. Tetaplah mencari pahala sebanyak-banyaknya, tetaplah mencari maghfirah-Nya, tetaplah ngaji dan tarawih meski di rumah, tetaplah mendengarkan kajian lewat internet secara daring (online), tetaplah pacu dirimu untuk beribadah maksimal di bulan Ramadhan, karena Ramadhan itu sejatinya ada di dalam hati kita.

------------


Post a Comment

0 Comments