“Barangsiapa bergembira
dengan masuknya bulan Ramadhan, maka Allah akan mengharamkan jasadnya masuk
neraka. (Nash riwayat ini disebutkan di kitab Durrat An-Nasihin).
“Ketika masuk bulan Ramadlan
maka syaitan-syaitan dibelenggu, pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu
neraka ditutup,” (HR Bukhari dan Muslim).
Allah
juga berfirman :
ﻗُﻞْ ﺑِﻔَﻀْﻞِ ﺍﻟﻠّﻪِ ﻭَﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻪِ ﻓَﺒِﺬَﻟِﻚَ ﻓَﻠْﻴَﻔْﺮَﺣُﻮﺍْ ﻫُﻮَ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِّﻤَّﺎ ﻳَﺠْﻤَﻌُﻮﻥَ
“Katakanlah: ‘Dengan kurnia
Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan
rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (QS. Yunus
[10]: 58).
Dari dalil
- dalil tersebut sangat jelas bahwa orang mukmin sudah selayaknya bergembira
atas datangnya Bulan Suci Ramadhan. Dikarenakan pada bulan Suci Ramadhan itu,
semua pahala akan dilipatgandakan, banyaknya Rahmat-Nya yang diturunkan di
bumi-Nya. Setan-setan dikunci rapat dan tidak diperbolehkan untuk keluar.
Pintu-pintu syurga dibuka Allah SWT selebar-lebarnya. Menjadi bulan dimana
Al-Qur’an diturunkan ke bumi. Bahkan di bulan Ramadhan ini terdapat satu malam
yang apabila kita beribadah di dalamnya, pahalanya itu sebanding dengan 1000
bulan waktu kita di dunia. Malam tersebut adalah Malam Lailatul Qadr. Malam yang selalu dicari-cari oleh yang giat
mencarinya. Bukankah itu adalah berita yang sangat bagus untuk kaum mukminin?
Tapi pertanyaannya adalah apakah kita
masuk ke dalam kategori mukminin? Ataukah kita masih menetap statusnya di kaum
muslimin?
Dengan
adanya wabah virus korona ini, kita bisa introspeksi diri. Apakah kita
bergembira datangnya bulan Ramadhan memang karena kita menginginkan pahala dan
mendapatkan maghfirah-Nya? Ataukah kita menjadi kaum yang mengikuti suasana
Ramadhan saja?
Pada
bulan Ramadhan sebelum-sebelumnya, Masjid dibuka untuk sholat tarawih, sering
terdengar suara-suara ngaji dari masjid, banyaknya agenda buka bersama di
masjid ataupun di lingkungan tempat kita berada, sekolah yang pada libur, jam
kantor yang lebih singkat dari hari hari biasanya, dan masih banyak lagi yang
kita dapatkan pada bulan suci Ramadhan. Tetapi semua hal itu tidak kita jumpai
pada bulan Ramadhan ini dikarenakan virus korona yang semakin merajalela.
Menjadi lesu ibadah karena virus korona?
Merasa seperti bukan bulan Ramadhan? Atau Menilai bahwa bulan Ramadhan kali ini
tidak ada bedanya dengan bulan lainnya?
Jika
kamu mengalami hal tersebut, kamu harus perhatikan lagi Booster Ramadhan kamu. Artinya kamu tidak benar-benar mengerti apa
artinya Allah membukakan pintu syurga selebar-lebarnya pada bulan Ramadhan. Atau
kamu mengira bahwa virus korona ini juga berdampak pada tertutupnya pintu pintu
syurga?
Sekali
lagi virus korona hanya berdampak di bumi, tidak ada hubungannya dengan
akhirat. Ada atau tidaknya virus korona, pintu-pintu syurga tetap terbuka
selebar lebarnya. Sudah saatnya kita kenali Booster
kita selama ini. Apakah muncul dari dalam diri ini? Ataukah booster itu muncul dari luar diri?
Jika
suasanya Ramadhan kali ini tidak seperti suasana Ramadhan sebelumnya, kamu
tinggal membuatnya sendiri sama seperti bulan Ramadhan sebelumnya. Tetaplah
mencari pahala sebanyak-banyaknya, tetaplah mencari maghfirah-Nya, tetaplah
ngaji dan tarawih meski di rumah, tetaplah mendengarkan kajian lewat internet
secara daring (online), tetaplah pacu dirimu untuk beribadah maksimal di bulan
Ramadhan, karena Ramadhan itu sejatinya ada di dalam hati kita.
------------



0 Comments
Sudah Baca Artikelnya sampai habis? Beri Masukan kepada kami ya... :)