Ticker

6/recent/ticker-posts
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.

Korona Merongrong Kutai Barat, Perekonomian Jadi Makin Merana


Virus Corona yang berasal dari kota Wuhan ini diketahui telah sampai di Indonesia pada bulan Maret yang lalu. Mulai dari Jakarta dan sekitarnya virus ini kian merebak ke seluruh wilayah, tak terkecuali di Kabupaten Kutai Barat. Kabupaten kutai barat yang memiliki angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 70,69  ini baru mengetahui bahwa ada warganya yang terkena virus corona beberapa hari yang lalu.

Hal ini tentu saja membuat semua stakeholder di kutai barat khawatir akan penyebarannya. Dalam hal ini kita tidak mau seperti negara Italia dan Amerika yang pada mulanya tidak serius menangani virus ini, dan berakhir pada banyaknya warga yang terinfeksi.

Beberapa hari lalu Bupati Kutai Barat FX. Yapan, SH telah menetapkan Kutai Barat berstatus Keadaan Tertentu Darurat Bencana Wabah. Keputusan ini kemudian di-follow up dengan membatasi keluar masuknya warga di Kutai Barat. Hingga beredarnya informasi bahwa warga yang tidak ber-KTP Kutai Barat dilarang keluar masuk kabupaten kubar kecuali dengan kepentingan-kepentingan tertentu, seperti membawa logistic dan lain sebagainya.

Hingga saat ini pemerintah kutai barat belum menutup UMKM-UMKM di kutai barat. Hal ini memang keputusan yang tepat mengingat pembatasan social distancing atau physical distancing yang kita kenal dengan istilah ‘Jaga Jarak’ ini dianggap sudah cukup untuk menghentikan penyebaran virus. Kita boleh berjaga jaga dan waspada terhadap penyebaran virus yang begitu cepat, tetapi kita juga tidak seharusnya menjadi panik secara berlebihan. Yang ada malah mendatangkan mudharat yang lebih besar daripada manfaatnya.

Metode jaga jarak ini juga didukung oleh pemuka pemuka agama di kutai barat. Mereka menghimbau ke jamaahnya masing-masing untuk diperbolehkan beribadah di rumah masing masing. Meliburkan anak sekolah (belajar dari rumah), poster pencegahan Covid-19 (Corona Virus Disease 2019) yang ada di mana-mana, sehingga mengingatkan warganya untuk selalu cuci tangan adalah wujud nyata dalam pencegahan Covid-19 ini.

Adanya keputusan ‘Jaga Jarak’ ini tentunya akan berdampak pada perekonomian Kutai Barat. Hal ini juga dialami oleh hampir semua wilayah yang membatasi arus keluar masuknya manusia. Menurut pernyataan Presiden Ghana yang ditulis pada akun resmi twitternya pada tanggal 28 Maret yang lalu berbunyi, “Kami tahu cara menghidupkan kembali ekonomi. Yang kami tidak tahu adalah bagaimana menghidupkan kembali orang yang mati” itu sempat viral di beberapa media sosial.

Meskipun demikian, tidak ada salahnya jika kita membahas perekonomian kutai barat. Menurut Badan Pusat Statistik, Produk Domestik Regional Bruto dapat dihitung menurut lapangan usaha dan pengeluaran. Diketahui bahwa Pertumbuhan ekonomi Kutai Barat pada tahun 2019 yang lalu mencapai angka 5,58 persen. Angka ini cukup tinggi namun tetap harus waspada. Karena distribusi perekonomian kutai barat sebesar 16,04 persen disumbangkan oleh pengeluaran konsumsi rumah tangga. Apabila warung, toko, rumah makan, dan UMKM lainnya ditutup maka pengeluaran konsumsi rumah tangga diperkirakan akan semakin menurun. Belum lagi apabila bahan makanan dan minuman juga terbatas maka akan semakin banyak persentase konsumsi rumah tangga yang turun. Akibatnya akan berdampak pada perekonomian kabupaten. Belum lagi dampak terhadap Pembentukan Modal Tetap Bruto dan Net Ekspor Barang dan Jasa yang menyumbang lebih dari 75,55 persen dari perekonomian kutai barat sebagai akibat dari butterfly effect wabah virus ini.

Di sisi lain, selain banyaknya dampak negative yang ditimbulkan oleh wabah ini, tidak kita pungkiri bahwa beberapa sektor penyumbang ekonomi diperkirakan akan meningkat, salah satunya adalah industri tekstil. Banyaknya pembuatan masker dari kain merupakan efek samping adanya wabah ini. Hal ini merupakan hal positif yang bisa kita dapatkan. Tercatat pula pada laman BPS Kutai Barat bahwa sumbangan sektor industri terhadap PDRB tahun 2019 yang lalu adalah sebesar 5,71 persen. Apabila sektor sektor yang berkembang saat wabah ini ditingkatkan lebih dominan, maka pemerintah dapat menekan dampak negative dari wabah covid-19 ini.

-----------


Post a Comment

0 Comments