Ticker

6/recent/ticker-posts
ÙŠَا Ø£َÙŠُّÙ‡َا الَّذِينَ آمَÙ†ُوا Ø¥ِÙ†ْ تَÙ†ْصُرُوا اللَّÙ‡َ ÙŠَÙ†ْصُرْÙƒُÙ…ْ ÙˆَÙŠُØ«َبِّتْ Ø£َÙ‚ْدَامَÙƒُÙ…ْ
Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.

Membangun Perekonomian Kutai Barat Dari Kampung Paska Pandemi

 Kutai Barat memiliki 190 kampung dan 4 kelurahan dan tiap tiap itu memiliki BUMKam sendiri yang turut berperan dalam peningkatan aktivitas ekonomi di daerahnya sebagai penyumbang PDRB.

Kampung memiliki peranan penting untuk membangun perekonomian di Kutai Barat. Banyaknya kampung di kutai barat juga tidak bisa kita kesampingkan peranannya dalam perekonomian. Karena selain ekspor sumber daya alam, aktivitas kampung juga bisa menjadi sumber utama dalam menunjang Produk Domestik Regional Bruto jika dimanfaatkan dengan baik.

Sumber : freepik.com

Tiap tiap kampung memiliki Badan Usaha Milik Kampung (BUMKam) nya sendiri. Artinya dengan BUMKam yang dimiliki, kampung bisa lebih mandiri dalam pengelolaan ekonominya. Dan dengan peranan BUMKam yang besar, warga mau tidak mau akan terlibat. Dan akhirnya lapangan usaha akan terbuka lebar bagi warga di setiap kampung. Dengan terbukanya lapangan usaha di tiap tiap kampung, maka akan efektif menurunkan angka pengangguran yang dimiliki tiap tiap kampung. Dan angka pengangguran di Kutai Barat juga otomatis akan menurun.

Apalagi dana desa selalu tepat dan lancar diberikan ke setiap kampung oleh pemerintah pusat tiap tahunnya. Sehingga untuk pemodalan bagi BUMKam juga harusnya tidak menjadi masalah. Atau meski kampung terkendala dengan pemodalan BUMKamnya, ada warga yang menjadi pondasi pemodalan BUMKam itu sendiri. Dengan mengedepankan asas gotong royong dan musyawarah, semua warga di daerahnya juga bisa membantu dalam pemodalan BUMKam. Contohnya saja dengan gerakan Satu Penduduk Satu Butir Beras. Setiap kali sedang makan nasi, warga bisa menyumbangkan satu butir beras per satu orang yang kemudian diberikan ke kampung. Jika hal itu dilakukan oleh semua warga dalam setiap hari, maka akan terkumpul beras yang begitu banyak di kampung. Dan pengurus kampung bisa menjual beras tersebut untuk modal BUMKam yang akhirnya diperuntukkan sebesar besarnya bagi kepentingan masyarakat kampung.

BUMKam yang berhasil dikelola dengan baik akan meningkatkan pendapatan warganya, bagi warga yang pendapatannya lebih baik dari sebelumnya, maka besar peluangnya warga akan mengeluarkan uangnya untuk memenuhi keperluannya dengan lebih banyak, sehingga daya beli masyarakat di kampung tersebut akan meningkat. Daya beli masyarakat yang tinggi akan membuat permintaan pasar juga meningkat. Akibatnya akan terjadi aktivitas ekonomi yang baik di pasar sehingga bisa menjadi penyumbang dalam peningkatan Produk Domestik Regional Bruto di suatu daerah.

Tidak hanya dengan BUMKam saja untuk bisa meningkatkan daya beli masyarakat. Pemberian bantuan sosial ke masyarakat yang dilakukan oleh pemerintah ataupun swasta juga menjadi pemicu daya beli masyarakat di kampung tersebut meningkat. Masyarakat juga akan membelanjakan uangnya ke pasar untuk membeli barang keperluan sehari hari dan akhirnya akan berujung kepada meningkatnya aktivitas ekonomi yang baik di kampung.

Diketahui dari data Badan Pusat Statistik Kabupaten Kutai Barat bahwa di dalam struktur PDRB Kutai Barat menurut pengeluaran, Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga merupakan terbesar ketiga kontribusinya dalam PDRB kutai barat. Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga memiliki kontribusi sebesar 16,04 persen setelah Net Ekspor dan PMTB. Ini artinya Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga merupakan potensi yang belum dimaksimalkan oleh Pemerintah dan masyarakat dalam peranannya sebagai penyumbang PDRB.

Kutai Barat sebenarnya memiliki potensi yang bisa dikembangkan lebih lanjut. Menurut hasil Pendataan Potensi Desa yang dilakukan BPS tahun 2020, Kutai Barat memiliki 210 Sekolah Dasar, 58 Sekolah Menengah Pertama, dan 23 Sekolah Mengenah Atas. Selain itu, Kutai Barat juga memiliki 238 sarana kesehatan, 2.123 sarana dan prasarana ekonomi, 58 sarana lembaga keuangan, dan 22 Base Transceiver Station (BTS). Keluarga yang menjadi pengguna listrik di Kutai Barat juga sudah banyak, yaitu 47.349 keluarga. Untuk itu tinggal kita kembangkan kembali potensi yang dimilikinya. Jika seluruh potensi di kutai barat bisa kita kembangkan, putaran uang yang beredar akan selalu ada di kutai barat. Kita bisa meminimalkan uang yang keluar dari Kutai Barat. Sehingga semua warga di kutai barat akan merasakan kesejahteraan yang lebih baik lagi.

Banyaknya tantangan yang dihadapi kampung menjadi masalah yang harus diselesaikan bersama sama. Seperti belum bagusnya infrastruktur di tiap tiap kampung, belum optimalnya pemanfaatan potensi yang dimiliki oleh kampung, belum terbangunnya sumber daya manusia yang bagus, dan belum optimalnya pemanfaatan teknologi.

Banyaknya pekerjaan rumah yang dihadapai ini menandakan bahwa masih panjangnya perjalanan yang harus ditempuh guna menyejahterakan warga di Kutai Barat. Tetapi ini juga sebagai pertanda bahwa tanggung jawab tidak bisa diserahkan begitu saja ke pemerintahan, harus ada partisipasi aktif dari semua warga yang tinggal di kutai barat. Jika asas gotong royong dan musyawarah bisa dikedepankan, Insya Allah kita bisa melewati tantangan tersebut dan meningkatkan perekonomian kutai barat dari kampung. Dan kita bisa melewati dampak negatif pertumbuhan ekonomi setelah pandemik menyerang kutai barat. (dph)

Post a Comment

0 Comments