Kutai Barat memiliki 190 kampung dan 4 kelurahan dan tiap tiap itu memiliki BUMKam sendiri yang turut berperan dalam peningkatan aktivitas ekonomi di daerahnya sebagai penyumbang PDRB.
Kampung memiliki peranan
penting untuk membangun perekonomian di Kutai Barat. Banyaknya kampung di kutai
barat juga tidak bisa kita kesampingkan peranannya dalam perekonomian. Karena
selain ekspor sumber daya alam, aktivitas kampung juga bisa menjadi sumber
utama dalam menunjang Produk Domestik Regional Bruto jika dimanfaatkan dengan
baik.
![]() |
| Sumber : freepik.com |
Tiap tiap kampung memiliki Badan
Usaha Milik Kampung (BUMKam) nya sendiri. Artinya dengan BUMKam yang dimiliki,
kampung bisa lebih mandiri dalam pengelolaan ekonominya. Dan dengan peranan
BUMKam yang besar, warga mau tidak mau akan terlibat. Dan akhirnya lapangan
usaha akan terbuka lebar bagi warga di setiap kampung. Dengan terbukanya
lapangan usaha di tiap tiap kampung, maka akan efektif menurunkan angka
pengangguran yang dimiliki tiap tiap kampung. Dan angka pengangguran di Kutai
Barat juga otomatis akan menurun.
Apalagi dana desa selalu tepat
dan lancar diberikan ke setiap kampung oleh pemerintah pusat tiap tahunnya.
Sehingga untuk pemodalan bagi BUMKam juga harusnya tidak menjadi masalah. Atau
meski kampung terkendala dengan pemodalan BUMKamnya, ada warga yang menjadi
pondasi pemodalan BUMKam itu sendiri. Dengan mengedepankan asas gotong royong
dan musyawarah, semua warga di daerahnya juga bisa membantu dalam pemodalan
BUMKam. Contohnya saja dengan gerakan Satu Penduduk Satu Butir Beras. Setiap
kali sedang makan nasi, warga bisa menyumbangkan satu butir beras per satu
orang yang kemudian diberikan ke kampung. Jika hal itu dilakukan oleh semua
warga dalam setiap hari, maka akan terkumpul beras yang begitu banyak di
kampung. Dan pengurus kampung bisa menjual beras tersebut untuk modal BUMKam
yang akhirnya diperuntukkan sebesar besarnya bagi kepentingan masyarakat
kampung.
BUMKam yang berhasil dikelola
dengan baik akan meningkatkan pendapatan warganya, bagi warga yang
pendapatannya lebih baik dari sebelumnya, maka besar peluangnya warga akan
mengeluarkan uangnya untuk memenuhi keperluannya dengan lebih banyak, sehingga
daya beli masyarakat di kampung tersebut akan meningkat. Daya beli masyarakat
yang tinggi akan membuat permintaan pasar juga meningkat. Akibatnya akan
terjadi aktivitas ekonomi yang baik di pasar sehingga bisa menjadi penyumbang
dalam peningkatan Produk Domestik Regional Bruto di suatu daerah.
Tidak hanya dengan BUMKam saja
untuk bisa meningkatkan daya beli masyarakat. Pemberian bantuan sosial ke
masyarakat yang dilakukan oleh pemerintah ataupun swasta juga menjadi pemicu
daya beli masyarakat di kampung tersebut meningkat. Masyarakat juga akan
membelanjakan uangnya ke pasar untuk membeli barang keperluan sehari hari dan
akhirnya akan berujung kepada meningkatnya aktivitas ekonomi yang baik di
kampung.
Diketahui dari data Badan Pusat
Statistik Kabupaten Kutai Barat bahwa di dalam struktur PDRB Kutai Barat
menurut pengeluaran, Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga merupakan terbesar
ketiga kontribusinya dalam PDRB kutai barat. Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga
memiliki kontribusi sebesar 16,04 persen setelah Net Ekspor dan PMTB. Ini
artinya Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga merupakan potensi yang belum
dimaksimalkan oleh Pemerintah dan masyarakat dalam peranannya sebagai
penyumbang PDRB.
Kutai Barat sebenarnya memiliki
potensi yang bisa dikembangkan lebih lanjut. Menurut hasil Pendataan Potensi
Desa yang dilakukan BPS tahun 2020, Kutai Barat memiliki 210 Sekolah Dasar, 58
Sekolah Menengah Pertama, dan 23 Sekolah Mengenah Atas. Selain itu, Kutai Barat
juga memiliki 238 sarana kesehatan, 2.123 sarana dan prasarana ekonomi, 58
sarana lembaga keuangan, dan 22 Base
Transceiver Station (BTS). Keluarga yang menjadi pengguna listrik di Kutai
Barat juga sudah banyak, yaitu 47.349 keluarga. Untuk itu tinggal kita
kembangkan kembali potensi yang dimilikinya. Jika seluruh potensi di kutai
barat bisa kita kembangkan, putaran uang yang beredar akan selalu ada di kutai
barat. Kita bisa meminimalkan uang yang keluar dari Kutai Barat. Sehingga semua
warga di kutai barat akan merasakan kesejahteraan yang lebih baik lagi.
Banyaknya tantangan yang dihadapi
kampung menjadi masalah yang harus diselesaikan bersama sama. Seperti belum
bagusnya infrastruktur di tiap tiap kampung, belum optimalnya pemanfaatan
potensi yang dimiliki oleh kampung, belum terbangunnya sumber daya manusia yang
bagus, dan belum optimalnya pemanfaatan teknologi.
Banyaknya pekerjaan rumah yang
dihadapai ini menandakan bahwa masih panjangnya perjalanan yang harus ditempuh
guna menyejahterakan warga di Kutai Barat. Tetapi ini juga sebagai pertanda
bahwa tanggung jawab tidak bisa diserahkan begitu saja ke pemerintahan, harus
ada partisipasi aktif dari semua warga yang tinggal di kutai barat. Jika asas
gotong royong dan musyawarah bisa dikedepankan, Insya Allah kita bisa melewati
tantangan tersebut dan meningkatkan perekonomian kutai barat dari kampung. Dan
kita bisa melewati dampak negatif pertumbuhan ekonomi setelah pandemik
menyerang kutai barat. (dph)

0 Comments
Sudah Baca Artikelnya sampai habis? Beri Masukan kepada kami ya... :)