Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur pada Triwulan III tahun 2020 mengalami peningkatan sebesar 2,39 persen dibandingkan dengan Triwulan II tahun 2020 (quartal on quartal).
Dengan adanya pertumbuhan
positif ini maka Kalimantan Timur sudah melewati tahapan terburuk dari pandemi covid-19
dan mulai menuju keluar dari Resesi. Pasalnya pertumbuhan yang terjadi pada
kuartal II tahun 2020 adalah terjadinya penurunan yang paling dalam hingga
minus 5,46 persen jika dibandingkan dengan kuartal II tahun 2019 (year on year).
![]() |
| Sumber : freepik.com |
Pada triwulan III tahun 2020, dibandingkan
dengan triwulan II tahun 2020 (qoq),
dilihat PDRB dari sisi Lapangan Usaha, perkembangan Tiga Lapangan Usaha dengan
Laju Pertumbuhan Tertinggi terjadi pada sektor Transportasi dan Pergudangan
(13,75 persen), Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (8,73 persen), dan Pengadaan
Listrik dan Gas (7,02 persen). Namun jika dilihat dari PDRB sisi Pengeluaran,
perkembangan terbesar terjadi pada sektor Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (0,64
persen) dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (0,32 persen).
Pertumbuhan ekonomi di TW III
tahun 2020 yang positif ini (qoq)
terjadi setelah pemerintah memberlakukan kebijakan New Normal. Dengan adanya New
Normal, maka lambat laun aktivitas ekonomi Kalimantan timur mulai kembali
membaik. Aktivitas ekonomi yang mulai membaik ini akan menyebabkan daya beli
masyarakat yang meningkat, akibatnya permintaan pasar akan barang dan jasa
menjadi tinggi dan terjadinya arus peredaran uang yang cepat. Adanya pertumbuhan
ekonomi ini juga terjadi karena adanya faktor pemberian bantuan sosial dari
pemerintah atau swasta kepada masyarakat, sehingga masyarakat akan lebih
cenderung membelanjakan uangnya yang ujungnya akan berefek pada daya beli
masyarakat yang meningkat.
Kebiasaan belanja yang berubah
juga salah satu pemicu positifnya perkembangan ekonomi di Triwulan III ini. Pola
berbelanja masyarakat berubah yang tadinya berbelanja dengan cara tradisional kini
menjadi lebih modern melalui online shop.
Apalagi dengan online shop,
masyarakat akan mudah tergoda membeli suatu barang karena prosesnya juga
gampang. Sektor Transportasi dan Pergudangan adalah sektor yang paling besar
tumbuh di triwulan III ini, kemungkinan besar salah satunya juga terjadi karena
pengiriman barang-barang masyarakat yang dibeli melalui online shop.
Dampak dari positifnya
perekonomian Kalimantan timur di triwulan III tahun 2020 ini akan menurunkan
angka pengangguran dan masyarakat miskin, meski tidak signifikan. Hal ini dikarenakan,
untuk Kalimantan timur, kontribusi pengeluaran rumah tangga menjadi posisi
ketiga teratas yang paling banyak berpengaruh pada ekonomi kaltim setelah
ekspor dan Pembentukan Modal Tetap Bruto. Dampak lainnya adalah terhentinya
Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di beberapa sektor karena jika pertumbuhan
ekonomi masih terus minus, dengan adanya resesi yang berkepanjangan ini akan
menimbulkan PHK di mana mana.
Selama Oktober 2020, terjadi
deflasi sebesar minus 0.18 persen di Kalimantan timur. Deflasi ini terjadi
karena lemahnya daya beli masyarakat, sehingga permintaan pasar juga rendah,
akibatnya penjual akan menurunkan harga-harga barang untuk menarik minat para
pembeli.
Aktivitas ekonomi selalu diawasi
oleh Bank Indonesia, tak terkecuali di Kalimantan timur. Jika aktivitas ekonomi
meningkat, maka daerah tersebut akan terjadi inflasi. Namun sebaliknya, jika
aktivitas ekonomi menurun, maka di daerah tersebut akan terjadi deflasi. Jika inflasi
atau deflasi tinggi dan tidak terkendali terjadi, maka berpeluang resesi akan terjadi.
Dengan ditunjukkan tanda tanda adanya pelemahan aktivitas ekonomi minimal
selama dua kuartal atau 6 bulan, maka daerah tersebut dikatakan telah mengalami
resesi. Maka dari itu, jika inflasi terjadi cukup tinggi, maka Bank Indonesia akan
menaikkan suku bunga, dan sebaliknya jika terjadinya deflasi, maka Bank
Indonesia akan menurunkan suku bunga untuk menjaga kestabilan ekonomi di suatu
wilayah.
Berdasarkan PDRB sisi
Pengeluaran, konsumsi pemerintah menyumbangkan pertumbuhan ekonomi yang paling
tinggi di Triwulan III tahun 2020 sebesar 0,64 persen (qoq). Menurut tren
pengeluaran konsumsi pemerintah yang dilihat dari triwulan 1 tahun 2017 hingga
triwulan III tahun 2020 menurut Badan Pusat Statistik, pengeluaran konsumsi
pemerintah selalu tinggi pada triwulan IV. Dari pola seperti ini bisa kita
prediksikan bahwa kemungkinan besar konsumsi pemerintah di triwulan IV tahun
2020 juga akan naik drastis. Sehingga akan menyumbangkan perekonomian yang positif
pada pertumbuhan ekonomi di triwulan IV yang akan datang.
Kunci utama dalam pemulihan
ekonomi menurut Ibu Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani Indrawati,
S.E., M.Sc., Ph.D adalah dengan Konsumsi dan Investasi. Perekonomian akan sulit
bertumbuh dengan baik meski pengeluaran konsumsi pemerintah sudah All Out jika kepercayaan dari Investor
tidak kunjung kembali. Perekonomian akan kembali stabil jika kita bisa
menguatkan pengeluaran konsumsi di segala bidang dan membuat para investor
percaya dan melakukan investasi di Indonesia.
Kalimantan Timur sebenarnya telah
menderita cukup dalam jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
Pada kuartal kedua (April-Juni) 2020, produk domestik regional bruto (PDRB)
Kalimantan timur adalah negatif 5,46 persen (qoq). Bumi Etam adalah provinsi yang paling terpukul ekonominya se-
pulau Kalimantan. Penyebabnya adalah PDRB Kaltim sebagian besar dibentuk dari sektor
ekspor. Lebih spesifik lagi, ekspor hasil sumber daya alam.
Untuk tantangan ke depannya. Adanya
Covid-19 ini yang telah berlangsung selama berbulan bulan telah menimbulkan
resesi yang ditandai dengan negatifnya pertumbuhan ekonomi di dua quartal
(quartal I dan quartal II) tahun 2020. Dengan adanya kejadian ini, dampak yang
ditimbulkan di Kalimantan timur akan tetap dirasakan selama bertahun tahun. Maka
ini menjadi Pekerjaan Rumah Pemerintah Kalimantan Timur dan warganya.
Pemerintah harus bisa mengembalikan perekonomian di bumi etam dengan dukungan
semua warganya. (dph)

0 Comments
Sudah Baca Artikelnya sampai habis? Beri Masukan kepada kami ya... :)