Ticker

6/recent/ticker-posts
ÙŠَا Ø£َÙŠُّÙ‡َا الَّذِينَ آمَÙ†ُوا Ø¥ِÙ†ْ تَÙ†ْصُرُوا اللَّÙ‡َ ÙŠَÙ†ْصُرْÙƒُÙ…ْ ÙˆَÙŠُØ«َبِّتْ Ø£َÙ‚ْدَامَÙƒُÙ…ْ
Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.

Suka Duka di Kala 2014, Kesasar #Jleb banget



Hal pertama yang akan saya sebutkan dalam postingan kali ini adalah bahwa saya adalah Orang Desa   yang tidak terlalu paham dengan kecanggihan Teknologi dan cara bergaul. Yang terkadang tidak sesuai dengan bergaulnya orang-orang pada saat ini. Mereka biasa disebut orang lain sebagai orang yang alay dan Lebay. Tetapi inilah aku. Di tahun 2014 aku tinggal di Jakarta untuk menyelesaikan perkuliahanku di salah satu perguruan tinggi kedinasan. Sudah 2 tahun aku di Jakarta tetapi tetap saja aku adalah orang desa.

Pada tahun 2014 banyak sekali momen-momen seru yang akan saya bagikan untuk para pembaca semuanya, mulai dari keceriaan ikut bakti sosial di Bandung, abang kandung yang datang untuk pertama kali di Jakarta, makan makanan yang aneh, bahkan hingga pernah mengalami berita duka dari sanak keluarga. Tetapi itulah hidup, ada suka maupun duka.

Kali ini saya tidak akan menceritakan hal tersebut, namun ada satu peristiwa yang sungguh luar biasa yang tidak saya lupakan di tahun 2014, yaitu (simak ceritanya aja ya. ^_^)…

Ceritanya pun akhirnya di Mulai…

Saya senang dengan yang namanya Perlombaan MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an). Meski tidak ikut berpartisipasi dalam perlombaan itu karena memang kemampuan belum memadai, namun mendatangi saja saya luar biasa merasa senang karena memang semenjak saya di Jakarta, saya tidak pernah lagi ikut MTQ bahkan mendengar kabarnya.

Sudah lama saya mencari-cari berita tentang Perlombaan MTQ di masing-masing kota, apalagi di Jakarta. Pernah saya mendapati berita perlombaan MTQ di Jakarta Barat tepatnya di kantor Walikota Jakarta Barat pada hari Jum’at. Dan saya berniat pada kala itu untuk datang ke Jakarta Barat. Namun kosan saya sendiri berada di Jakarta Timur. Saya tidak tahu mikrolet/metro mini/kopaja bahkan busways yang langsung ke kantor Walikota Jakbar. Saya hanya memiliki satu kendaraan yang senantiasa mendampingi saya kemanapun saya pergi. Kendaraan itu Alhamdulillah saya beli dengan uang hasil saya sendiri. Bisa tebak kendaraan apa? Mobil? Ah gak mungkin seorang mahasiswa perantauan memiliki Mobil. Atau Motor? Ah saya belum bisa membeli motor dan gak mau ribet dengan polusi yang ada di Jakarta. Saya tidak mau menjadi pensuplai pencemaran Lingkungan karena asap Motor meski banyak PT PT yang mengatakan ‘Ini motor ramah lingkungan lho. Jadi jangan khawatir tentang polusi.’ Tetapi tetap saja pasti ada polusi yang timbul akibat asap motor itu. Lalu apa?

Sepeda? Yaps betul sepeda. Sepeda adalah kendaraan yang 100% ramah lingkungan. Tidak perlu membeli bahan bakar seperti bensin premium atau pertamax yang harganya saat ini sudah melambung tinggi. Bahan bakarnya ya cuma nasi atau minuman.

Sumber Gambar : Dokumen Pribadi


Seriusan? Ya. Nasi dan minumannya itu ya kumakan dan kuminum. Kan untuk menjalankan sepeda membutuhkan tenaga, dan tenaga itu muncul jika kita mengkonsumsi gula. Seperti glukosa, sukrosa, galaktosa, dan Cukup sampai situ karena pelajaran biologi bukanlah pelajaranku di perkuliahan. Jadi lanjut aja ke pembahasan. Dan Gak mungkin lah makanan dan minuman itu untuk sepeda. ^_^

Pada hari jum’at itu sewaktu pulang dari perkuliahan sekitaran jam 4 sore, aku langsung pulang ke rumah ganti pakaian dan peralatan yang dibutuhkan dalam perjalanan menuju kantor walikota Jakarta Barat. Dan aku pun baru pergi (start awal) sekitaran jam 16.30.

Dengan gigih dan semangat akupun berangkat dari Jakarta Timur ke Jakarta Barat dengan menggunakan sepeda. Dan jika ada yang bertanya, apakah aku tahu jalannya? Sekali lagi aku katakan kalau aku adalah orang Desa, dan tentunya aku tak tahu jalan. Kepergianku hanya bermodalkan semangat dan arahan sedikit dari temanku untuk menuju ke Jakarta Barat. Sore-sore di Jakarta kamu pasti tahu kalau jam-jam segitu hingga maghrib adalah jam-jam macet banget. Banyak orang yang pulang kerja. Dan di saat orang-orang menggunakan mobil dan motor mewahnya, aku hanya menggunakan sepeda yang senantiasa rela kutumpangi.

Jalan terus, dan terus berjalan. Waktu maghrib dan isya pun saya tidak lupa untuk beribadah. Dan setelah itu kulanjutkan perjalananku. Sepeda ku bukanlah sepeda sport teruntuk jarak yang jauh. Sekali lagi tidak. Sepedaku hanyalah sepeda yang apa adanya. Setetes dua tetes bahkan beberapa tetes keringatku pun jatuh layaknya hujan yang deras seperti hujan sekarang ketika aku menulis postingan ini. Hehehe

Bahkan tadinya aku menggunakan kaos yang kering kini pun menjadi basah dengan keringatku karena memang jarak dari Jakarta Timur ke Jakarta Barat itu tidaklah dekat, apalagi aku menempuhnya sewaktu malam hari.

Hingga di perjalanan ada suatu tanda yang aku tak tahu awalnya. Yaitu tanda yang mengatakan bahwa motor tidak boleh lewat jalan ini. “Ah kan aku pakai sepeda, bukan motor” pikirku sewaktu itu. Dan apa yang kulihat setelah dipertengahan jalan yang kulewati itu? Ku hadapkan wajahku ke kanan dan ke kiri tetap saja tak ada motor yang lewat. Bahkan banyak mobil, truk, ataupun bis yang lewat jalan itu. Aku pun heran ketika ada orang di dalam bis ketika melewatiku tiba-tiba dia memarahiku. Aku pun heran apakah aku berbuat salah ya?

Dan beberapa menit kemudian akupun sadar kalau aku saat itu telah melewati ‘jalan tol’ dengan menggunakan sepeda. Sedikit gemetar dan takut kalau terjadi apa apa, tapi tetap saja harus kulewati jalan itu. Tak mungkin kalau aku berbalik arah karena aku sudah jauh meninggalkan jalan tadi. Hingga aku keluar di keluaran tol dan kena marah oleh petugas di sana. bahkan aku ditanya-tanya layaknya penjahat. Hiii…, ngeri dah pokoknya.. tapi ya Alhamdulillah aku mengatakan maksud perjalananku dan memberitahukannya ke petugas tol. Aku menandatangani satu lembaran untuk laporan petugas itu ke atasan. Dan saya diijinkan untuk melanjutkan perjalanan dan diberi arahan oleh petugas untuk menuju ke kantor walikota Jakarta Barat.

Dan sesampai di Masjid kantor walikota sekitaran jam 8 malam. Saya tak melihat adanya keramaian. Dan langsung aku tanyai orang-orang yang pada saat itu sedang ada di sana. “Pak, acaranya MTQ di sini mana ya?” langsung kata bapaknya acaranya sudah selesai sebelum maghrib tadi. Dan #Jleb, aku pun tak bisa berkata-kata hanya bisa menertawakan diriku sendiri. Setengah jam kuhabiskan waktuku untuk mengobrol dengan bapaknya. Dan setelah itu pukul 9 aku balik ke Jakarta Timur tanpa membawa apapun. Dan sekali lagi jangan bilang aku tahu jalannya. Aku pun tak tahu jalan pulangnya. Aku sempat kesasar dan keliling, tapi pastinya kali ini aku tak melewati jalan tol lagi. Dan aku sampai di Kosan pukul 11 malam. Hahahaha
Cerita yang Amazing!!!

Post a Comment

2 Comments

  1. Duh, kok bisa gak sadar kalo masuk ke jalan tol? :D
    Btw, salam kenal ya.. makasih udah ikutan giveaway di blogku ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak...
      karena setahu saya kalau masuk tol itu ada pintu tolnya, nah kalau ini gak ada sama sekali. jadi gak tau kalau masuk tol. ^_^
      apalagi kondisina itu malam, jadi gak begitu sadar. :)
      Salam kenal juga mbak dari saya. sukses ya mbak giveawaynya. semoga bisa ikutan lagi di giveaway mbak selanjut-selanjutnya. ^_^

      Delete

Sudah Baca Artikelnya sampai habis? Beri Masukan kepada kami ya... :)