Hal pertama yang akan saya
sebutkan dalam postingan kali ini adalah bahwa saya adalah Orang Desa yang tidak
terlalu paham dengan kecanggihan Teknologi dan cara bergaul. Yang terkadang
tidak sesuai dengan bergaulnya orang-orang pada saat ini. Mereka biasa disebut
orang lain sebagai orang yang alay dan Lebay. Tetapi inilah aku. Di tahun 2014
aku tinggal di Jakarta untuk menyelesaikan perkuliahanku di salah satu
perguruan tinggi kedinasan. Sudah 2 tahun aku di Jakarta tetapi tetap saja aku
adalah orang desa.
Pada tahun 2014 banyak sekali
momen-momen seru yang akan saya bagikan untuk para pembaca semuanya, mulai dari
keceriaan ikut bakti sosial di Bandung, abang kandung yang datang untuk pertama
kali di Jakarta, makan makanan yang aneh, bahkan hingga pernah mengalami berita
duka dari sanak keluarga. Tetapi itulah hidup, ada suka maupun duka.
Kali ini saya tidak akan menceritakan
hal tersebut, namun ada satu peristiwa yang sungguh luar biasa yang tidak saya
lupakan di tahun 2014, yaitu (simak ceritanya aja ya. ^_^)…
Ceritanya pun akhirnya di Mulai…
Saya senang dengan yang namanya
Perlombaan MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an). Meski tidak ikut berpartisipasi dalam
perlombaan itu karena memang kemampuan belum memadai, namun mendatangi saja
saya luar biasa merasa senang karena memang semenjak saya di Jakarta, saya
tidak pernah lagi ikut MTQ bahkan mendengar kabarnya.
Sudah lama saya mencari-cari
berita tentang Perlombaan MTQ di masing-masing kota, apalagi di Jakarta. Pernah
saya mendapati berita perlombaan MTQ di Jakarta Barat tepatnya di kantor
Walikota Jakarta Barat pada hari Jum’at. Dan saya berniat pada kala itu untuk
datang ke Jakarta Barat. Namun kosan saya sendiri berada di Jakarta Timur. Saya
tidak tahu mikrolet/metro mini/kopaja bahkan busways yang langsung ke kantor
Walikota Jakbar. Saya hanya memiliki satu kendaraan yang senantiasa mendampingi
saya kemanapun saya pergi. Kendaraan itu Alhamdulillah saya beli dengan uang
hasil saya sendiri. Bisa tebak kendaraan apa? Mobil? Ah gak mungkin seorang
mahasiswa perantauan memiliki Mobil. Atau Motor? Ah saya belum bisa membeli
motor dan gak mau ribet dengan polusi yang ada di Jakarta. Saya tidak mau
menjadi pensuplai pencemaran Lingkungan karena asap Motor meski banyak PT PT
yang mengatakan ‘Ini motor ramah lingkungan lho. Jadi jangan khawatir tentang
polusi.’ Tetapi tetap saja pasti ada polusi yang timbul akibat asap motor itu. Lalu
apa?
Sepeda? Yaps betul sepeda. Sepeda
adalah kendaraan yang 100% ramah lingkungan. Tidak perlu membeli bahan bakar
seperti bensin premium atau pertamax yang harganya saat ini sudah melambung
tinggi. Bahan bakarnya ya cuma nasi atau minuman.
![]() |
| Sumber Gambar : Dokumen Pribadi |
Seriusan? Ya. Nasi dan minumannya
itu ya kumakan dan kuminum. Kan untuk menjalankan sepeda membutuhkan tenaga,
dan tenaga itu muncul jika kita mengkonsumsi gula. Seperti glukosa, sukrosa,
galaktosa, dan Cukup sampai situ karena pelajaran biologi bukanlah pelajaranku
di perkuliahan. Jadi lanjut aja ke pembahasan. Dan Gak mungkin lah makanan dan
minuman itu untuk sepeda. ^_^
Pada hari jum’at itu sewaktu
pulang dari perkuliahan sekitaran jam 4 sore, aku langsung pulang ke rumah
ganti pakaian dan peralatan yang dibutuhkan dalam perjalanan menuju kantor
walikota Jakarta Barat. Dan aku pun baru pergi (start awal) sekitaran jam
16.30.
Dengan gigih dan semangat akupun
berangkat dari Jakarta Timur ke Jakarta Barat dengan menggunakan sepeda. Dan jika
ada yang bertanya, apakah aku tahu jalannya? Sekali lagi aku katakan kalau aku
adalah orang Desa, dan tentunya aku tak tahu jalan. Kepergianku hanya
bermodalkan semangat dan arahan sedikit dari temanku untuk menuju ke Jakarta
Barat. Sore-sore di Jakarta kamu pasti tahu kalau jam-jam segitu hingga maghrib
adalah jam-jam macet banget. Banyak orang yang pulang kerja. Dan di saat
orang-orang menggunakan mobil dan motor mewahnya, aku hanya menggunakan sepeda
yang senantiasa rela kutumpangi.
Jalan terus, dan terus berjalan. Waktu
maghrib dan isya pun saya tidak lupa untuk beribadah. Dan setelah itu
kulanjutkan perjalananku. Sepeda ku bukanlah sepeda sport teruntuk jarak yang
jauh. Sekali lagi tidak. Sepedaku hanyalah sepeda yang apa adanya. Setetes dua
tetes bahkan beberapa tetes keringatku pun jatuh layaknya hujan yang deras
seperti hujan sekarang ketika aku menulis postingan ini. Hehehe
Bahkan tadinya aku menggunakan
kaos yang kering kini pun menjadi basah dengan keringatku karena memang jarak
dari Jakarta Timur ke Jakarta Barat itu tidaklah dekat, apalagi aku menempuhnya
sewaktu malam hari.
Hingga di perjalanan ada suatu
tanda yang aku tak tahu awalnya. Yaitu tanda yang mengatakan bahwa motor tidak
boleh lewat jalan ini. “Ah kan aku pakai sepeda, bukan motor” pikirku sewaktu
itu. Dan apa yang kulihat setelah dipertengahan jalan yang kulewati itu? Ku hadapkan
wajahku ke kanan dan ke kiri tetap saja tak ada motor yang lewat. Bahkan banyak
mobil, truk, ataupun bis yang lewat jalan itu. Aku pun heran ketika ada orang
di dalam bis ketika melewatiku tiba-tiba dia memarahiku. Aku pun heran apakah aku
berbuat salah ya?
Dan beberapa menit kemudian
akupun sadar kalau aku saat itu telah melewati ‘jalan tol’ dengan menggunakan
sepeda. Sedikit gemetar dan takut kalau terjadi apa apa, tapi tetap saja harus
kulewati jalan itu. Tak mungkin kalau aku berbalik arah karena aku sudah jauh
meninggalkan jalan tadi. Hingga aku keluar di keluaran tol dan kena marah oleh
petugas di sana. bahkan aku ditanya-tanya layaknya penjahat. Hiii…, ngeri dah
pokoknya.. tapi ya Alhamdulillah aku mengatakan maksud perjalananku dan
memberitahukannya ke petugas tol. Aku menandatangani satu lembaran untuk
laporan petugas itu ke atasan. Dan saya diijinkan untuk melanjutkan perjalanan
dan diberi arahan oleh petugas untuk menuju ke kantor walikota Jakarta Barat.
Dan sesampai di Masjid kantor
walikota sekitaran jam 8 malam. Saya tak melihat adanya keramaian. Dan langsung
aku tanyai orang-orang yang pada saat itu sedang ada di sana. “Pak, acaranya
MTQ di sini mana ya?” langsung kata bapaknya acaranya sudah selesai sebelum
maghrib tadi. Dan #Jleb, aku pun tak bisa berkata-kata hanya bisa menertawakan
diriku sendiri. Setengah jam kuhabiskan waktuku untuk mengobrol dengan
bapaknya. Dan setelah itu pukul 9 aku balik ke Jakarta Timur tanpa membawa
apapun. Dan sekali lagi jangan bilang aku tahu jalannya. Aku pun tak tahu jalan
pulangnya. Aku sempat kesasar dan keliling, tapi pastinya kali ini aku tak
melewati jalan tol lagi. Dan aku sampai di Kosan pukul 11 malam. Hahahaha
Cerita yang Amazing!!!

2 Comments
Duh, kok bisa gak sadar kalo masuk ke jalan tol? :D
ReplyDeleteBtw, salam kenal ya.. makasih udah ikutan giveaway di blogku ^_^
iya mbak...
Deletekarena setahu saya kalau masuk tol itu ada pintu tolnya, nah kalau ini gak ada sama sekali. jadi gak tau kalau masuk tol. ^_^
apalagi kondisina itu malam, jadi gak begitu sadar. :)
Salam kenal juga mbak dari saya. sukses ya mbak giveawaynya. semoga bisa ikutan lagi di giveaway mbak selanjut-selanjutnya. ^_^
Sudah Baca Artikelnya sampai habis? Beri Masukan kepada kami ya... :)